Menggagas Bisnis Islami Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 21 August 2008

Setiap manusia, tentunya memerlukan harta untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Karenanya manusia akan selalu berusaha memperoleh harta kekayaan itu. Salah satunya melalui bekerja dan berbisnis. Islam mewajibkan setiap muslim, khususnya yang memiliki tanggungan, untuk bekerja mencari rizky yang halal. Ketika memperoleh, dari jalan yang halal dan menafkahkan (menyalurkan) nya di jalan yang halal pula. Orientasi Syariah sebagai Kendali Bisnis Islami Dalam Islam, bisnis bertujuan untuk mencapai tiga hal utama; yakni (1) target hasil: profit-materi dan benefit-nonmateri (2) pertumbuhan & keberlangsungan, artinya terus meningkat dalam kurun waktu selama mungkin dan (3) keberkahan atau keridlaan Allah.

Target hasil: profit-materi dan benefit-nonmateri

Tujuan perusahaan seharusnya tidak hanya untuk mencari profit qimah madiyah (nilai materi) setinggi-tingginya, tetapi juga harus dapat memperoleh dan memberikan benefit (keuntungan atau manfaat) nonmateri kepada internal perusahaan dan lingkungan, seperti terciptanya suasana persaudaraan, kepedulian sosial, dan sebagainya.

Islam memandang bahwa tujuan suatu amal perbuatan tidak hanya berorientasi pada
(1) qimah madiyah (nilai materi), akan tetapi juga
(2) qimah insaniyah (nilai kemanusiaan), yang berarti mengelola bisnis harus dapat memberikan manfaat kemanusiaan melalui, misalnya kesempatan bekerja dan berwirausaha, bersedekah, berbagi ilmu, dll. Membagi ilmu dalam berbisnis, jangan anggap itu akan membahayakan bisnis kita. Karena selain ilmu tersebut menjadi manfaat yang pahalanya terus mengalir, juga kalaupun mereka menjadi pesaingtentunya akan menuntut kita untuk belajar lebih keras lagi. Benar, khan?
(3) Qimah khuluqiyah (nilai akhlak) mengandung makna bahwa nilai-nilai akhlaqul karimah menjadi suatu kemestian dalam mengelola perusahaan, sehingga dalam perusahaan tercipta hubungan persaudaraan Islami yang kuat, bukan sekedar hubungan atasan bawahan, majikan-buruh. Hal lain, yang harus ditunjukkan dalam konteks akhlak--dalam berbisnis adalah ketepatan waktu dalam pemenuhan akad, jujur, amanah dan memberikan yang terbaik. Sementara itu,
(4) qimah ruhiyah (nilai ruhiyah) berarti perbuatan tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan kata lain berbisnis adalah Ibadah kepada Allah.

Pertumbuhan dan Keberlangsungan

Jika profit materi dan benefit-nonmateri telah diraih sesuai target, perusahaan harus terus mengupayakan pertumbuhan atau kenaikan terus-menerus setiap profit dan benefitnya dalam kurun waktu selama mungkin. Tentunya, dengan memperhatikan aspek syariat.

Keberkahan

Faktor keberkahan atau orientasi untuk menggapai ridla Allah merupakan puncak kebahagiaan hidup manusia muslim. Allah SWT akan selalu memberikan kemudahan dan rizky tak terduga bagi setiap usaha termasuk bisnisyang dijalankan, dengan syarat: niat ikhlas, usaha sesuai syariat plus jangan lupa; terus berkarya dan belajar untuk ibadah kepada-Nya.

***Penulis adalah salah satu pemilik Ilalang Fotografi

 

 

 

Oleh : Yerry Primadi Arifin
Ahad, 14 Syawal 1427 H
Last Updated ( Tuesday, 26 May 2009 )
 
< Prev   Next >
 
Konsultasi Online


Rekening Zizwaf
Form Pendaftaran Relawan
Download Form Pendaftaran Relawan
Formulir Seleksi Nasional beasiswa Smart EI
Download Brosur SMART Ekselensia Indonesia
Download Formulir Pendaftaran SMART Ekselensia Indonesia
   
 
       

Dompet Dhuafa Jawa Barat
Jl. HOS Tjokro Aminoto (Pasirkaliki) No. 143 BAndung
Tlp. (022) 6032281, 6120218, Fax (022) 6120130, SMS 081-321-200-100, Email: info@dompetdhuafa.net