| Prahara di Tanah Dewata |
|
|
| Tuesday, 06 April 2010 | |
|
Dewata, nama lanskap hijau yang ditanami daun teh itu. Entah dari mana munculnya nama tersebut. Konon, dulu sebagian masyarakat setempat percaya, bahwa di sekitar sana adalah tempat persemayaman para dewa. Warga perkebunan teh Dewata, pergi bekerja seperti biasa. Mayoritas diantaranya memang mengandalkan nafkah sebagai pekerja perkebunan milik pengusaha pribumi, H. Rachmat Badruddin itu. Jam 7 pagi, mereka berduyun-duyung menyebar masuk ke area perkebunan, lengkap dengan keranjang teh di pundak, dan topi anyam penghalang muka dari sorotan sinar mentari. Sebagian membawa benih, untuk ditebar di lahan persemaian. Sebagian lagi tengah berkutat bersama mesin produksi di pabrik pengolahan teh nomor wahid di indonesia ini. Sesekali, canda tawa menghidupkan hari-hari mereka. Tak lama, bumi bergetar. Mia, salah seorang buruh pemetik teh tenang-tenang saja. Ia masih sibuk dengan urusannya menebar benih teh di persemaian. Namun, sejurus berlalu, tatapnya mendadak terhenti di sebelah Utara perkebunan. Mia seperti tak percaya pada pandangannya kala itu. Rimbun pepohonan yang tampak kokoh menyangga gunung Waringin, di Utara perkebunan teh Dewata, tiba-tiba berubah rapuh. Akar-akar tunggangnya terbalik begitu saja, seperti tak kuat menahan ledakan yang datang bak petir di pagi nan cerah. Tak berhenti di situ, ledakan kemudian disusul gemuruh tanah yang amblas dan bergerak mengular, bak naga raksasa yang tengah turun dari peristirahatan untuk mencari mangsa. Dan, tanpa ampun, material tanah bercampur batu, air, pepohonan besar yang bertumbangan, dan elemen longsor lainnya, bergerak cepat menerjang pemukiman penduduk , tak seberapa jauh dari lokasi. Akibatnya, harta dan jiwa pun menjadi korban. Puluhan rumah tinggal para pekerja perkebunan ludes tertimbun material longsor, termasuk satu pabrik pengolahan teh, gedung olahraga, puskesmas, koperasi karyawan, dan beberapa lainnya. Sedangkan jumlah korban yang tertimbun mencapai 47 jiwa. Mia, satu diantara saksi mata yang selamat dari murka alam itu. Meski sempat terjebak lumpur setinggi dada, Mia berhasil lolos dari maut. Namun, tak demikian nasib sang suami, Juju Rustandi. Pria yang bekerja sebagai staf Tata Usaha di perkebunan Dewata ini, ikut tertimbun bersama puluhan korban lainnya. Logika Manusia Sekilas, dengan logika sederhana, tak mungkin gunung Waringin yang demikian hijau dengan tanaman dan pepohonan rindangnya bisa mengalami bencana longsor. Bukankah lazimnya, longsor itu terjadi lantaran tangan-tangan jahil yang menggunduli lahan-lahan yang bukan semestinya. Analisa Ilmiah Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan, bahwa longsor di perkebunan dewata itu terjadi, sebagai dampak dari gempa bumi yang melantakkan Jabar Selatan, akhir 2009 lalu. Gempa dahsyat itu konon menyisakan retakan di sekitar Gunung Waringin, yang termasuk area cagar alam Gunung Tilu. Namun itulah kehendak sang pemilik alam raya, Allah Swt. Manusia hanya bisa berencana, Allah jua yang menentukan putusan akhirnya. Tanah Dewata, yang katanya tempat bersemayam para dewa menurut mitologi keyakinan lama, tak mampu mengelak dari Prahara. Respon Elemen Peduli Empati mengalir dari segenap kaum peduli. Hari itu juga, setelah memeroleh cukup informasi, tim Dompet Dhuafa (DD) Rescue yang terdiri dari tim medis dan relawan tanggap darurat segera bertolak menuju lokasi. Butuh sekitar Empat jam perjalanan untuk sampai di sana. Setiba di lokasi, tim DD Rescue segera berkoordinasi dengan otoritas pemegang kendali, dalam hal ini pihak manajemen PT Kabepe Chakra, sebagai pemilik perkebunan teh Dewata dan Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) setempat. “Aksi tanggap darurat Tim DD Rescue lebih terkonsentrasi di pembuatan Dapur Umum untuk memenuhi kebutuhan logistik pengungsi, layanan kesehatan, dan Trauma Healing untuk memulihkan korban selamat yang mengalami trauma/depresi,” kata Koordinator tim DD Rescue, Yudha Firmansyah. Khusus untuk layanan kesehatan, tambah yudha, selain tim medis, DD Rescue juga bersinergi bersama tim BRC (Bekam Ruqyah Center), menggelar layanan pengobatan ala Rasul, Thibbun Nabawi, semisal Bekam dan detoksifikasi. Untuk evakuasi, lanjut Yudha , tim DD Rescue juga menurunkan tim yang bersinergi bersama segenap elemen peduli, semisal Badan SAR Nasional (Basarnas), Gerakan Reformis Islam (GARIS), Aksi Cepat Tanggap (ACT), Polres Bandung, Kopassus, dan beberapa lainnya. Data terakhir, dua hari setelah proses evakuasi dihentikan, Rabu (3/3/10), dari 44 korban jiwa yang tertimbun longsor, 35 diantaranya berhasil ditemukan. Hingga tulisan ini dibuat, medio Maret 2010, fase Tanggap Darurat Bencana Longsor Dewata sudah berakhir. Lanjut ke fase recovery, sedianya tim DD Rescue bekerjasama dengan PT. Kabepe Chakra, berencana membangun Hunian Sementara (Huntara) bagi para korban yang masih tinggal di wilayah pengungsian. (sihamudda’wah) |
| < Prev | Next > |
|---|









Pagi yang cerah, Selasa (23/02/10). Embun masih tampak, sisa hujan semalam yang mengguyur hebat lembah hijau di kaki gunung Waringin, Kabupaten Bandung.