| Menanti Jasad sang Mandor Besar |
|
|
| Tuesday, 06 April 2010 | |
Sabtu (27/2/10), proses evakuasi korban longsor di perkebunan teh Dewata tinggal tersisa dua hari. Ihah masih berharap jasad suaminya, Hadin komarudin (44) bisa ditemukan.
Ihah Hasilah berusaha tetap tegar menghadapi kenyataan. Senyum khas sang suami tercinta, Hadin Komarudin tak lagi bisa ia dapatkan, sejak longsor Gunung Waringin ikut melumat pabrik pengolahan teh Dewata, tempat almarhum bekerja, Selasa (23/2/10). Hadin masuk dalam daftar korban hilang. Jam 3 dini hari, sebelum kejadian, Hadin baru pulang lembur. Ia kemudian pulang untuk istirahat sejenak, melepas penat. Pagi hari usai menunaikan shalat Subuh, Hadin sudah kembali bersiap-siap untuk berangkat kerja. Sekitar jam 7 pagi, Hadin berangkat. Entah lupa atau ada faktor lainnya, ia tak menyempatkan diri untuk pamit bersalaman dengan Ihah, dan anak-anaknya, seperti biasa. Bahkan untuk sarapan sekalipun, Hadin tak sempat. Meski agak janggal, Ihah tak menganggap itu terlalu berlebihan. “Dia bilang banyak kerjaan di pabrik,” kata Ihah, mengenang. Ia mencoba memaklumi kondisi itu, mengingat suaminya memang belum genap sebulan diamanahi jabatan sebagai Mandor Besar di Perkebunan teh Dewata. Tentu tanggungjawabnya pun kian bertambah. Hadin termasuk salah satu karyawan teladan di perkebunan teh Dewata. Hampir tak ada warga Dewata yang tak kenal sosok Hadin. Ia dikenal sangat dekat dengan masyarakat. Menurut Ihah, suaminya itu sedikit bicara, banyak bekerja. Capaian karirnya hingga kini, benar-benar dimulai dari titik nol, sebagai security alias Satuan Pengamanan (Satpam) di perusahaan eksportir teh itu. Tak berpikir macam-macam, Ihah pun pergi memandikan putra bungsunya yang baru berusia 1,5 tahun, Dika Pratama. Selesai memandikan, dan mengenakan sandang, Ihah lantas mengambil wudhu untuk menunaikan shalat Dhuha. Begitu Dhuha tertunaikan, ibu empat anak ini bersegera ke halaman depan, hendak menjemur handuk, bekas mandi Dika. Di sinilah tiba-tiba ... “longsor ... longsor ..” teriakan panik orang-orang dari sebelah utara perkebunan. Kejadiannya begitu cepat. Hanya selang beberapa menit, banjir lumpur disertai material lainnya menggerus pemukiman warga, dan beberapa sarana umum, semisal Masjid, koperasi, termasuk sebagian bangunan pabrik pengolahan teh, tempat suaminya bertugas. Beruntung, rumah tinggalnya tak ikut tergerus. Padahal, arus longsor hanya berjarak sekitar 5-10 meter di belakang rumah Ihah. Menanti Jasad Sabtu (27/2/10), proses evakuasi korban longsor di perkebunan teh Dewata tinggal tersisa dua hari. Ihah masih berharap jasad suaminya, Hadin komarudin (44) bisa ditemukan. Jam 08.50, saat mendengar kabar relawan evakuasi menemukan kembali dua jenazah, Ihah bergegas pergi ke masjid, tempat penyimpanan jenazah semantara, tak jauh dari rumahnya. Berharap, semoga salah satu diantaranya adalah jasad Hadin, sang suami. Sayang, ternyata nihil. Ia tak melihat sosok lelaki yang telah mendampinginya selama ini, dalam susah, pun gembira. Ihah pasrah, namun belum menyerah. Jika memang tidak dapat ditemukan, ia ridha areal longsor seluas 5 hektar itu menjadi kuburan bagi jasad suaminya. Namun, ikhtiar selama proses evakuasi berlangsung, harus tetap dilakukan. Ia yakin, jasad suaminya dapat ditemukan. Belum satu jam, 09.35, kembali tim evakuasi berhasil menemukan jenazah korban longsor. Kali ini diidentifikasi berjenis kelamin pria. Posisi tubuhnya menekuk, seperti posisi berguling. Entah kenapa, Ihah begitu yakin kali ini jasad itu adalah benar-benar jasad suaminya, Hadin. Untuk memastikan, Ihah kembali mendatangi masjid. Tatapnya tertuju pada kantong jenazah yang baru saja dibuka oleh tim evakuasi. Sejenak Ihah tertegun. Matanya agak berkaca-kaca. Tak lama kemudian, setelah dengan seksama mencermati, Ihah memastikan sosok yang sudah terbujur kaku itu adalah suaminya, Hadin Komarudin. “Alhamdulillah, saya lega. Suami saya akhirnya dapat ditemukan. Insya Allah, bapak akan dimakamkan di kampung halamannya, Singaparna,” ungkapnya. Doa Ihah agar diberi kesempatan untuk melihat jasad suaminya, terkabul. Siang itu juga, jenazah diberangkatkan dengan menggunakan kendaraan ambulance Dompet Dhuafa ke tempat peristirahatan terakhir, Singaparna, Tasikmalaya. (ibnaty naifa)
|
|
| Last Updated ( Tuesday, 06 April 2010 ) |
| < Prev | Next > |
|---|









Sabtu (27/2/10), proses evakuasi korban longsor di perkebunan teh Dewata tinggal tersisa dua hari. Ihah masih berharap jasad suaminya, Hadin komarudin (44) bisa ditemukan.