| Ketika Marah TakTerkendali |
|
|
| Written by tya | |
| Friday, 09 July 2010 | |
|
Syahdan, dalam sebuah peperangan, Ali bin Abi Thalib RA hampir memenggal leher lawannya. Tiba-tiba lawannya itu meludahi mukanya. Ali sangat marah. Pada saat itu, ia justru memacu kudanya pergi menjauh dan menyarungkan pedangnya. Ia tidak ingin membunuh lawan karena nafsu amarah. Karena membunuh dalam peperangan adalah dalam rangka menjalankan perintah Allah untuk menegakkan keadilan bukan melampiaskan rasa amarah. Sedangkan kemarahan yang tidak beralasan, yaitu kemarahan yang tidak disebabkan oleh adanya hambatan yang mengancam terpenuhinya kebutuhan yang mendasar adalah kemarahan yang tercela. Namun, apa yang terjadi belakangan ini. Ketika amarah tak terkendali, miris mendengar ragam pemberitaan peristiwa kriminal yang terjadi. Ada ibu yang tega membunuh anak sendiri, lantaran putus harapan bisa membiayai kehidupan di masa mendatang. Ada pula seorang istri, yang tega membunuh suami sendiri, hanya karena tuduhan selingkuh yang belum sempat terbukti. Ah, amarah. Begitu berbahaya jika tak terkendali. Maka, ingatlah sabda Rasulullah SAW agar kita senantiasa mampi meredakan amarah. ” Jika salah seorang diantara kalian marah dan ia dalam posisi berdiri, maka hendaknya ia segera duduk, maka kemarahannya akan hilang. Namun jika kemarahan itu tidak reda, maka hendaknya ia berbaring”. (Abu Dzaarr RA). Rasulullah juga menganjurkan para sahabat agar berwudhu’ untuk mengendalikan emosi kemarahan. “ Marah itu berasal dari setan, setan itu diciptakan dari api. Adapun api dapat dipadamkan dengan air, maka jika seseorang diantara kalian marah, hendaknya segera berwudhu”. (Urwah bin Muhammad as-Sa’di RA) (Ima Rachmalia) |
|
| Last Updated ( Friday, 09 July 2010 ) |
| < Prev | Next > |
|---|










Sesama muslim adalah bersaudara. Nabi SAW menekankan pentingnya membangun persaudaraan Islam dalam batasan-batasan praktis dalam bentuk saling peduli dan tolong menolong. Andai pesan ini begitu diresapi oleh setiap insan manusia, betapa harmonis hubungan yang ada antar sesama. Tak akan terdengar berita yang menyedihkan bagaimana seseorang tega menelantarkan orang lain, melukainya, atau bahkan membuatnya kehilangan nyawa. Na’udzubillahimindzalik.