Rekening Zizwaf
 
e-Letter

Jika Anda ingin mendapatkan update terbaru mengenai dompet dhuafa, silahkan isi formulir berikut ini:

:
:


 
 
 
Bekam Dan Harapan Seorang Yanti Print E-mail
Written by tya   
Friday, 09 July 2010

Image Pedih dirasakan oleh Yanti Mulyati saat menyaksikan ibunya menjual satu demi satu pohon-pohon di kebun mereka. Sepeninggal sang ayah, gadis yang kala itu berusia 15 tahun ini sadar bahwa keluarganya tidak memiliki mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan.

Yanti yang saat itu masih duduk di bangku SMP Tasikmalaya memutuskan untuk keluar dari sekolah dan merantau ke Jakarta. Bermodal doa, gadis ini beranjak ke ibu kota. Alhamdulillah, saat itu Yanti diterima bekerja di sebuah kantin di salah satu kampus di sana.

 

Tidak sampai dua tahun Yanti memutuskan untuk pindah ke Bandung. Alasannya sederhana, ia merasa lingkungan tempat tinggalnya dirasa kurang positif. Dengan berbekal koran yang memuat lowongan kerja sebagai baby sitter, Yanti lalu hijrah ke Kota Kembang. Awalnya Yanti merasa beruntung, majikannya berasal dari kampung yang sama dan perlakuan yang ia terima pun cukup baik. Sayangnya, lambat laun ia merasa aqidahnya dipertaruhkan.

 

“Saya nggak betah. Saya sering diajakin ke gereja, dengarkan nyanyian-nyanyian gereja, bahkan disuruh baca Injil. Makanya saya kemudian putuskan untuk keluar,” ujar Yanti.

 

Sempat berganti majikan beberapa kali dengan alasan keluar yang sama, Yanti kemudian berbisnis catering atas ajakan temannya yang mahasiswa. Sekian bulan usaha tersebut berjalan lancar sebelum akhirnya berhenti karena rekan kerjanya memutuskan untuk konsentrasi kuliah. Yanti akhirnya berganti profesi sebagai karyawan di sebuah toko kerudung.

 

“Saya kerja apa saja mau. Selain memang perlu biaya untuk saya dan keluarga di Tasik, saya juga ingin memiliki banyak kemampuan,” tutur gadis yang hobi membaca dan belajar ini.

 

Diceritakan oleh Yanti, ia kini menjadi tulang punggung keluarganya. Selain biaya hidup sehari-hari, biaya sekolah adiknya di bangku SMA dan SMP pun menjadi tanggungannya. Sebenarnya Yanti memiliki seorang kakak perempuan. Namun, setelah menikah dan diboyong oleh suaminya ke Padang, mereka tidak pernah mendengar beritanya lagi sejak beberapa tahun yang lalu.

 

Harapan mendapat kehidupan yang lebih baik sempat terbersit kala ibunya mengabarkan hendak menikah lagi. Sayangnya, ayah tirinya tidak memiliki pekerjaan. Nafkah keluarga pun masih sepenuhnya tergantung pada gadis berusia 21 tahun ini. Walau sempat kecewa, Yanti mengaku pasrah. Ia kini hanya berharap dapat menyekolahkan kedua adiknya setinggi mungkin.

 

“Harapan tertinggi saya adalah dapat menyekolahkan mereka setinggi-tingginya. Setidaknya saya ingin ada yang berhasil dari keluarga saya, walaupun hanya satu orang,” ucap Yanti penuh semangat.

 

Saat menjaga toko itulah Yanti kemudian berkenalan dengan Nur, anggota Bekam Ruqyah Center (BRC) yang menjadi langganannya. Suatu hari, Nur memberikan informasi mengenai program Pesantren Terapis Kesehatan Islami yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa (DD) Bandung dan BRC. Yanti yang saat itu sedang mencari pekerjaan baru karena merasa jam kerjanya di toko terlalu berat, segera mendaftar. Yanti mengaku senang mengikuti pendidikan di pesantren.

 

“Betah. Banyak teman, banyak ilmu. Kita nggak cuma belajar ilmu agama, tapi juga ilmu formal,” kesan Yanti selama mengikuti pendidikan.

 

Ke depannya, salah satu rencana Yanti adalah mendirikan klinik bekam di kampung halamannya di Tasik.

 

“Saya ingin mengenalkan tentang bekam disana, habis di tempat saya pengobatan seperti ini tidak pernah ada. Masyarakat masih belum tahu,” terang Yanti penuh harap.

 

(Dey Irfani)

Last Updated ( Friday, 09 July 2010 )
 
< Prev   Next >
 
   
 
       

Dompet Dhuafa Bandung
Jl. HOS Tjokro Aminoto (Pasirkaliki) No. 143 BAndung
Tlp. (022) 6032281, 6120218, Fax (022) 6120130, SMS 081-321-200-100, Email: info@dompetdhuafa.net