| ZAKAT UNTUK BANGSAKU |
|
|
| Written by tya | |
| Thursday, 19 August 2010 | |
|
Formil merdeka, 17 Agustus 1945, bangsaku masih saja terbelit lara. Bahkan hingga kini, setelah enam setengah dekade dijalani. Beromantika ria dengan sejarah boleh-boleh saja. Bagaimana begitu heroiknya para pendahulu kita melawan kesewenang-wenangan di bumi tercinta. Terlebih jika semangat perlawanan kontra kezaliman itu kita implementasikan dalam aksi nyata, bukan sekedar wacana, pun retorika. Jika dulu, musuh begitu nyata terlihat di depan mata, maka bentuk perlawanan fisik adalah sesuatu yang niscaya. Sangat mudah membedakan mana lawan mana kawan. Meski urusan persenjataan sangat timpang, senjata api melawan bambu runcing, golok dan senjata tradisional semisal, musuh mampu dibuat kelabakan. Mereka takluk oleh semangat juang dan kebersamaan yang muncul dari perasaan senasib sepenanggungan.Empati mudah ditemui di kehidupan sehari-hari. Laku pribadi-pribadi yang ikhlas tanpa harap berbalas. Yang kaya, tak segan mengeluarkan hartanya untuk misi mulia. Yang lemah tak merasa demikian, lantaran kuatnya persaudaraan. Bukan kebetulan, jika kemudian hari merdeka 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 17 Ramadhan 1365 Hijriyah. Semua sudah ada ketentuannya. Spirit Ramadhan, kuat mewarnai semangat heroik para pejuang kemerdekaan yang banyak diantaranya adalah ulama, santri dan cendekiawan muslim. Di masa Rasulullah, tercatat dalam sejarah, Beragam peristiwa heroik turut menghiasi bulan penuh rahmat ini, diantaranya: Perang Badar, antara kaum Muslim melawan kaum Quraisy; Fathu Makkah yakni peristiwa penaklukan kota Makkah dari tangan kaum Musyrikin, dan juga peristiwa hancurnya berhala-hala milik kaum kafir Quraisy oleh beberapa utusan Rasulullah. Beragam contoh peristiwa di atas menekankan bahwa Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, ternyata disikapi juga sebagai bulan perjuangan. Perasaan lapar, dahaga tak dirasakan ketika kemenangan menanti di hadapan mata. Bukan hanya kemenangan melawan lapar dan dahaga, tapi juga kemenangan melawan hawa nafsu demi tegaknya panji agama. Kini, penjajahan itu masih ada, namun telah berganti rupa. Jika sebelumnya fisik sangat kentara, hari ini, watak kolonialis merasuki jiwa-jiwa sesama. Isme Sekular, yang menjauhkan Agama dari kehidupan. Pluralisme, yang mengusung konsepsi relativitas kebenaran. Liberalisme, yang membebaskan pemodal menghisap darah kaum tak berpunya. Yang lemah tentu menjadi korban. Tersisih di belantara kehidupan yang sudah menempatkan kepentingan pribadi dan golongan di atas segalanya. Maka, kemiskinan bukannya berkurang. Kebodohan pun adalah konsekuensi ketidakberpihakan kebijakan pada pemerataan pendidikan. Akses kesehatan menjadi milik segelintir orang ber-uang. Zakat untuk Bangsaku. Sebuah gerakan kepedulian, yang digagas untuk mengetuk empati bersama, bahwa masih banyak diantara sesama yang merindukan persaudaraan. Sebagaimana dulu, para pendahulu memberikan teladan. Di bulan suci Ramadhan ini, Dompet Dhuafa kembali mengajak segenap kaum peduli, untuk merenungi sebuah arti persaudaraan. Sebagaimana manfaat shaum yang mengingatkan kita akan nikmat Allah yang belum tentu dirasakan oleh mereka yang papa. Selamat Menunaikan Ibadah Shaum Ramadhan 1431 H. Maafkan khilaf kami, semoga kita senantiasa mampu membersihkan diri.
Bandung, Ramadhan 1431 H
Ima Rachmalia (Direktur Dompet Dhuafa Jawa barat)
|
|
| Last Updated ( Thursday, 19 August 2010 ) |
| < Prev | Next > |
|---|









