Sudisto, Ingin Memperbaiki Lingkungan untuk Memperbaiki Taraf Hidup Masyarakat Print E-mail
Written by tya   
Thursday, 19 August 2010

Image

“Aku diterima, Pak. Di Jurusan Pertanian Unpad Bandung,”ucapku, melaporkan hasil SMPTN yang saat itu telah diumumkan di Koran.

Bapak diam. Beberapa menit berlalu, namun bapak masih bungkam. Sikap bapak menggelisahkanku.  Aku cemas bahwa bapak berubah pikiran dan tidak mau mendukungku untuk kuliah.

Namaku Sudisto. Kalau digambarkan, keadaan ekonomi keluargaku tidak berlebihan. Aku berasal dari Sidodadi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan. Sebuah desa kecil yang minim fasilitas pendidikan.  Masa SMA kulalui di Kalindra, berjarak sekitar 60 km dari rumahku.

Bapak seorang petani dengan penghasilan tahunan dari hasil panen sawah tadah hujan. Pendapatan bapak sangat tergantung dari cuaca. Sawah yang digarap bapak seluas 4 hektar, dimana 1 hektar adalah milik kakek yang dikerjakan secara paruhan. Saat SMA, bila pulang ke rumah setiap 2 minggu sekali, aku selalu membantu bapak menggarap sawahnya. Menyiangi gulma, mencampur  dan menyebarkan pupuk kukerjakan dari jam 7 pagi hingga 5 sore.

Keluarga kami adalah keluarga besar. Aku bungsu dari tujuh bersaudara. Sebagian kakakku sudah berumah tangga. Namun kondisi ekonomi mereka yang sulit membuat bapak masih sering membantu biaya hidup mereka. Apalagi, kakak keenamku juga sedang menempuh pendidikan di STIKES Yogyakarta, sehingga aku cukup mengerti bila berat bagi bapak bila kini harus menanggung biaya kuliahku juga.

***

Sikap diam bapak rupanya tidak hanya di hari itu. Hari-hari berikutnya pun bapak masih tidak mau bicara. Hingga akhirnya pada hari kelima, bapak memanggilku dan menyuruhku daftar ulang. Walau gembira, aku sadar, uang yang kugunakan sepertinya berasal dari hasil menjual sebagian sawah milik kami.

Esoknya, dengan berbekal uang Rp 1 juta, aku menuju Bandung. Aku bermaksud tinggal sementara di masjid di fakultasku. Bagaimanapun, uang yang kuterima sebagai bekal itu harus cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menemukan tempat tinggal, setelah dipotong ongkos perjalanan. Aku tidak tahu kapan lagi bapak akan mengirimiku uang. Mengetahui niatku, seseorang kemudian menyarankanku menemui Kang Haris, dimana aku kemudian diijinkan menginap di kamarnya di asrama mahasiswa Unpad.

Untuk menghemat, setiap hari aku membeli 1 bungkus nasi yang kubagi 2, separuh untuk makan pagi dan separuhnya lagi kumakan sore atau malam hari. Entah karena kelelahan atau memang tubuhku yang lemah, aku sempat  jatuh sakit.

Di tengah kebingungan mencari tempat tinggal, aku berkenalan dengan Kang Restu. Ia menawariku tinggal di kostnya bersama dengan seorang temannya. Dengan begitu, biaya kost lebih hemat karena dibagi 3. Tentu saja tawaran ini kuterima.

Rupanya, penghuni kost adalah anggota KAMMI, organisasi mahasiswa dimana akhirnya aku tergabung. Suatu hari, saat KAMMI mengadakan kegiatan, aku diminta membantu DANUS (Dana Usaha) dengan berjualan kue donat dan risol. Melihat peluangnya, aku tetap melanjutkan usaha jualan donat ini untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari. Keuntungan sekitar Rp 15.000,-/ hari sangat berarti karena aku tidak bisa hanya mengandalkan kiriman dari bapak.

Untuk meringankan biaya kuliah, aku mencoba mencari beasiswa dan berhasil mendapat beasiswa PPA. Namun, tanpa kuduga, pengurus Sub Bagian Administrasi fakultas mendaftarkanku ikut Beasiswa Pemimpin Bangsa (BPB) yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa Jawa Barat. Alhamdulillah akhirnya aku terpilih sebagai penerima BPB Dompet Dhuafa Jawa Barat. Bukan hanya seluruh biaya pendidikanku yang ditanggung, tetapi aku juga menerima fasilitas asrama, uang saku, dan sejumlah pendidikan dan pelatihan. Kini, walau tidak setiap hari, di sela kesibukanku aku tetap berjualan donat dan risol sebab banyak keuntungan yang telah kurasakan dari usaha ini.

Ke depannya, aku bermimpi untuk memperbaiki kondisi daerahku. Aku ingin memasyarakatkan pupuk organik karena saat ini kondisi tanah di desaku sudah rusak akibat pemakaian pupuk kimia. Buktinya, hasil panen selalu menurun dan tanahnya menjadi sulit diolah. Disamping itu, aku ingin mensinergikan peternakan dan pertanian karena kedua hal tersebut saling menunjang. Tak ketinggalan, aku juga berharap kondisi hutan bakau disana dapat pulih kembali. Hingga nantinya seiring kondisi lingkungan yang membaik, kehidupan masyarakat didesaku juga meningkat.

Last Updated ( Thursday, 19 August 2010 )
 
< Prev   Next >
 
Konsultasi Online


Rekening Zizwaf
Form Pendaftaran Relawan
Download Form Pendaftaran Relawan
Formulir Seleksi Nasional beasiswa Smart EI
Download Brosur SMART Ekselensia Indonesia
Download Formulir Pendaftaran SMART Ekselensia Indonesia
   
 
       

Dompet Dhuafa Jawa Barat
Jl. HOS Tjokro Aminoto (Pasirkaliki) No. 143 BAndung
Tlp. (022) 6032281, 6120218, Fax (022) 6120130, SMS 081-321-200-100, Email: info@dompetdhuafa.net