Sederhana di Hari Raya Print E-mail
Written by tya   
Wednesday, 01 September 2010

Image

Lebaran adalah hari yang tidak asing bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Hari yang penuh suka cita, di mana kaum muslimin dibolehkan kembali makan dan minum di siang hari setelah satu bulan penuh berpuasa. Namun, jika kita tinjau perayaan lebaran (Idul Fitri) yang telah kita laksanakan, sudah sesuaikah apa yang kita lakukan dengan keinginan Allah SWT dan Rasul-Nya? Atau malah kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perintah-Nya, dengan sekedar ikut-ikutan kebanyakan manusia?

 

Ada tiga pengertian tentang Idul Fitri. Di kalangan ulama ada yang mengartikan Idul Fitri dengan kembali kepada kesucian. Artinya setelah selama bulan Ramadan umat Islam melatih diri menyucikan jasmani dan rohaninya, dan dengan harapan pula dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT, Maka memasuki hari Lebaran mereka telah menjadi suci lahir dan batin.

Ada yang mengartikan Idul Fitri dengan kembali kepada fitrah, atau naluri religius. Hal ini sesuai dengan Alquran Surat Al-Baqarah ayat 183, bahwa tujuan puasa adalah agar orang yang melakukannya menjadi orang yang takwa atau meningkat kualitas religiusitasnya.

Ada pula yang mengartikan Idul Fitri dengan kembali kepada keadaan di mana umat Islam diperbolehkan lagi makan dan minum siang hari seperti biasa. Di kalangan ahli bahasa Arab, pengertian ketiga itu dianggap yang paling tepat.

Dari ketiga makna tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam memasuki Idul Fitri umat Islam diharapkan mencapai kesucian lahir batin dan meningkat kualitas religiusitasnya. Salah satu ciri manusia religius adalah memiliki kepedulian terhadap nasib kaum papa. Dalam Surat Al-Ma’un ayat 1 -3 disebutkan, adalah dusta belaka kalau ada orang mengaku beragama tetapi tidak mempedulikan nasib anak yatim. Penyebutan anak yatim dalam ayat ini merupakan representasi dari kaum papa.

Namun, makna Idul fitri dimasyarakat melebar, Idul fitri atau yang biasa juga disebut lebaran di maknai seperti halnya sebuah pesta, harus ada pakaian baru, makanan yang banyak dan mewah, dan lain sebagainya. Memang tidak disalahkan selama kita mampu, hanya saja pada kenyataannya banyak masyarakat yang memaksakan diri sampai harus minjam uang demi menyiapkan pesta lebaran.

Padahal, kalau kita mencoba memahami salah satu hikmah puasa yakni membangkitkan empati kepada kaum papa dengan mencoba merasakan berbagai kekurangan mereka, sangat bertolak belakang. Memaksakan diri dalam menyiapkan pesta lebaran, merupakan cerminan dari ketidak berhasilan mendidik diri di bulan Ramadhan. Karena hikmah puasa tersebut mengajarkan kepada kita selain menumbuhkan kepedulian kepada kaum papa juga mendidik kita tentang kesederhanaan. Maka sewajarnya merayakan lebaran (Idul fitri) dengan kesederhanaan sebagai wujud kepedulian kepada kaum papa.

Kesederhanaan tidak berarti memperlihatkan kesengsaraan, kemiskinan, kemelaratan dan serba kekurangan. Kesederhanaan merupakan pola pikir dan pola hidup yang proporsional, tidak berlebihan dan mampu memprioritaskan sesuatu yang lebih dibutuhkan. Kesederhanaan ialah kemampuan untuk ikhlas menerima yang ada, berusaha untuk berlaku adil dan bersyukur atas setiap rezeki yang diberikan dengan tetap menggunakannya pada hal-hal yang bermanfaat dan berarti. Wassalam, Taqobalallahu minna Waminkum Taqobal Ya Karim. (dirangkum dari berbagai sumber).

Dompet Dhuafa Jawa Barat

Hendi Suhendi

(Empowering Manager Dompet Dhuafa Jawa Barat)

 

Last Updated ( Monday, 04 October 2010 )
 
< Prev   Next >
 
Konsultasi Online


Rekening Zizwaf
Form Pendaftaran Relawan
Download Form Pendaftaran Relawan
Formulir Seleksi Nasional beasiswa Smart EI
Download Brosur SMART Ekselensia Indonesia
Download Formulir Pendaftaran SMART Ekselensia Indonesia
   
 
       

Dompet Dhuafa Jawa Barat
Jl. HOS Tjokro Aminoto (Pasirkaliki) No. 143 BAndung
Tlp. (022) 6032281, 6120218, Fax (022) 6120130, SMS 081-321-200-100, Email: info@dompetdhuafa.net