Farida, Kutatap Dunia dengan Lebih Baik Print E-mail
Written by tya   
Wednesday, 01 September 2010
Image

 

“Ma, ada si mang kacamata. Katanya mau belikan Ida kacamata,” ucap Farida, seorang gadis kelas 1 SMP. Ida, panggilan akrab Farida, berharap kali ini ibunya dapat membelikannya kacamata. Sayang, untuk kesekian kalinya harapan memiliki benda berlensa tersebut belum kesampaian. Ibunya, Nining Tursilawati tetap tidak mampu memenuhi harga yang diminta mang kacamata, walau sudah dipotong hingga separuh dan dapat dicicil selama 3 bulan.

Ida baru berusia 13 tahun. Saat SD, gadis berjilbab ini selalu masuk rangking 10 besar. Namun, entah mengapa, sejak masuk SMP daya penglihatan Ida menurun. Dunia tidak lagi terlihat jelas di mata gadis berkulit cokelat ini. Akibatnya, Ida tidak dapat lagi mengikuti pelajaran dan memahami materi yang dijelaskan gurunya di papan tulis.

“Saya pernah meminta ijin agar diperbolehkan duduk di depan sehingga lebih dekat ke papan tulis. Tapi karena saya tinggi, teman-teman yang duduk dibelakang merasa terhalang,” ungkap Ida.

Pantang menyerah, Ida memikirkan cara lain. Ia  meminta teman sebangkunya mengeja materi pelajaran di papan tulis. Namun lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan. Lambat laun temannya merasa kesal dan mengeluhkan dirinya terganggu dengan permintaan Ida.

Ida bingung. Setelah berpikir, Ida mencoba cara lain dengan meminjam catatan temannya. Ia pun merelakan waktunya untuk menyalin catatan tersebut sebelum mengerjakan PR, mengulang pelajaran, dan membantu ibunya di rumah. Namun untuk kesekian kali Ida pasrah saat temannya jenuh meminjamkan bukunya.

         Keadaan tersebut berefek negatif. Ida sering sulit memahami pertanyaan di kelas. Nilai-nilainya turun. Ia pun ditegur oleh gurunya karena dianggap tidak fokus belajar. Ida sadar bahwa dirinya salah dengan menyembunyikan keterbatasan penglihatannya. Namun gadis ini pun takut mengakui masalah tersebut pada guru dan teman-temannya. Ia malu membayangkan reaksi mereka kalau tahu bahwa dirinya mempunyai gangguan penglihatan.

“Walau sangat membutuhkan kacamata, saya sadar kalau saya tidak boleh egois dengan memaksa orang tua membelikannya. Penghasilan mereka dari buruh tukang pikul sayuran di Pasar Caringin bisa dibilang tidak cukup untuk sekadar memenuhi kebutuhan saya dan ke-3 adik saya. Bahkan, orangtua terpaksa meminjam ke rentenir.  Akibatnya, hutangnya seperti tidak akan pernah lunas, sekalipun semua barang-barang dirumah habis diambil sebagai pengganti bunga pinjaman,” urai Ida.

 Keadaan seperti ini pun membuat Ida sangat tidak nyaman belajar dirumahnya sendiri. “Sering penagih hutang memarahi dan memaki saya apabila Ibu sedang tidak ada dirumah. Karena banyaknya penagih yang datang, kami semua sempat pindah-pindah rumah. Ada rumah yang memang layak huni, sampai ada yang hanya 1 ruangan. Namun tetap saja bisa ditemukan dengan para penagih,”kata Ida. Seringnya menempati rumah yang tidak memenuhi standar kesehatan membuat anggota keluarga ini menderita sakit paru-paru.

Situasi rumah yang tidak nyaman dan kesulitan dalam mengikuti pelajaran di sekolah membuat Ida merasa tertekan. Sampai suatu hari, ada tetangga yang menyarankan untuk mencari bantuan ke Dompet Dhuafa Jawa Barat. Ditemani ibunya yang telah lebih dulu mengajukan bantuan kesehatan untuk adik-adiknya, Ida mengajukan bantuan kacamata. Setelah melalui tahap home visit dan melengkapi persyaratan administrasi, mata Ida diperiksa. Hasilnya, Ida mata kanannya minus 3 dan minus 2,5 untuk mata kirinya. Tiga jam kemudian Ida mendapatkan kacamatanya .

Alhamdulillah, hatur nuhun,” ucap Ida menahan haru sambil memakai kacamatanya. Ia lalu mengerjap-kerjap, menengok ke kanan, atas, dan bawah, menikmati dunia yang kini terhampar jelas di hadapannya.

Meuni jelas pisan. Ida tiasa maca seratan nu dipentaseun jalan,”ucapnya sumringah.

Suatu hari, datanglah secarik kertas ke Dompet Dhuafa Jawa Barat. Ida menceritakan bahwa ia kini bisa  belajar dengan baik. Pada semester akhir untuk kenaikan kelas, nilainya meningkat walau ia belum masuk 10 besar. Namun Ida telah bertekad untuk terus belajar, belajar dan belajar.  (Sri Arifrianti)

 

 

Last Updated ( Monday, 06 September 2010 )
 
< Prev   Next >
 
Konsultasi Online


Rekening Zizwaf
Form Pendaftaran Relawan
Download Form Pendaftaran Relawan
Formulir Seleksi Nasional beasiswa Smart EI
Download Brosur SMART Ekselensia Indonesia
Download Formulir Pendaftaran SMART Ekselensia Indonesia
   
 
       

Dompet Dhuafa Jawa Barat
Jl. HOS Tjokro Aminoto (Pasirkaliki) No. 143 BAndung
Tlp. (022) 6032281, 6120218, Fax (022) 6120130, SMS 081-321-200-100, Email: info@dompetdhuafa.net