| Pengorbanan Tanpa Batas |
|
|
| Written by dey | |
| Wednesday, 04 January 2012 | |
|
“Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintang untuk aku anakmu, ibuku sayang masih terus berjalan walau tapak kaki penuh darah penuh nanah, seperti udara kasih yang engkau berikan …….” (Lagu berjudul Ibu, dipopulerkan oleh Iwan Fals) Ibu, kata yang indah dan menyejukan, karena kehadirannya selalu dinanti dan dirindukan anak-anaknya. Bagaimana tidak? Karena ia yang tak pernah lelah dalam mencurahkan kasih sayang dan tak pernah terbersit sedikitpun mengharapkan balasan. Apa yang ia lakukan penuh ketulusan, apa yang ia berikan penuh keikhlasan. Perjuangannya tak mengenal waktu, pengobanannya tak mengenal batas. Benarkah demikian? Mari kita renungkan. Saat kita berumur satu tahun, dia menyuapi dan memandikan. Sebagai balasannya, kita menangis sepanjang malam. Saat kita berumur dua tahun, dia mengajari bagaimana cara berjalan. Sebagai balasannya, kita kabur saat dia memanggil. Saat kita berumur sepuluh tahun, dia mengantar ke mana saja, dari kolam renang hingga pesta ulang tahun. Sebagai balasannya, kita melangkah pergi tanpa memberi salam. Saat kita berumur 20 tahun, dia bertanya, “Dari mana saja seharian ini?” Sebagai balasannya, kita menjawab,”Ah, Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!”
Saat kita berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat. Sebagai balasannya, kita jawab, ”Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu.” Bahkan saat kita berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatan, sebagai balasannya, kita baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak- anaknya. Hingga akhirnya suatu hari, dia meninggal dengan tenang.
Pembaca yang budiman, meskipun balasan-basalan seperti itu yang kita berikan, namun percayalah takkan pernah terbersit dalam hatinya ingin balas dendam terhadap anak-anaknya yang tidak sadar akan kebaikan ibunya. Bahkan untaian doa selalu ia panjatkan kehadirat-Nya, agar anak-anaknya menjadi orang-orang yang sukses dunia dan akhirat.
Maka wajar, jika Allah swt begitu memuliakannya dan memberikan posisi yang tinggi di sisi-Nya. Sebagaimana firman-Nya, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.”(Luqman: 14).
Bersyukurlah jika hari ini, kita masih diberikan kesempatan berkumpul dengannya. Jangan biarkan kebersamaan dengannya kita lewatkan begitu saja. Berbaktilah kepadanya karena ridha Allah berada dalam keridhaannya. Jadikan jiwa pengorbanannya selalu hadir dalam diri kita, sehingga kita mampu melakukan seperti yang ia lakukan. Memberi kebaikan tanpa meminta penggantian. (Hendi Suhendi) |
|
| Last Updated ( Wednesday, 04 January 2012 ) |
| < Prev | Next > |
|---|









