Saatnya Kita Berbagi Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 28 August 2008
Banyak yang menangis karena kesusahan
Banyak yang merintih karena kelaparan
Tapi banyak pula yang menangis karena tawa tak tertahankan

Alkisah ada seorang anak manusia di alam kubur sana menjerit histeris ketakutan. Ia dituduh memakan harta anak yatim dan akan segera diputuskan hukumannya melalui pengadilan alam kubur.

 

mansyur

 

Sebelumnya ia bertanya, “Waduh, mengapa tuduhan menyakitkan itu dijatuhkan kepada saya? Apakah saya sudah menjadi pemakan harta anak yatim? Apakah saya mendustakan agama? Tidak! Enggak mungkin... Sepanjang umur, saya tidak pernah mamakan harta anak yatim!”

Tiba-tiba, ada suara keras dan menggema menyanggah, “Bahkan engkau memakan juga harta orang miskin!”

Sang anak manusia berkata lagi, ” Tuduhan apa lagi tuh?!!! Saya selalu berbisnis dengan benar, mengumpulkan harta dengan cara yang halal. Tunjukkan, di mana bukti tuduhan itu?!!!”

Ia menantang. akan tetapi, ketika dibeberkan serentetan bukti di balik tuduhan dan ancaman sanksi hukumnya, orang itu tertunduk malu lalu menangis, dan mengiba minta dikembalikan ke dunia untuk meluruskan apa yang ternyata memang benar dituduhkan kepadanya, ia berjanji bila ia diberikan bonus untuk hidup kembali di dunia walau sebentar saja, maka ia akan rajin memberi, gemar berbagi dan mau beramal sholeh.

Apa gerangan yang membuat ia menangis, setelah ia menantang hebat, tak menerima tuduhan itu? rupanya, ia diberi tahu bahwa memang ia benar dalam berbisnis selalu menggunakan etika bisnis yang baik dan halal, ia berlaku jujur, tapi ia lupa akan satu hal. Ia lupa berbagi kenikmatan, ia lupa berbagi kepedulian terhadap sesama. Kenikmatan dan kesuksesan yang ada di genggamannya hanya untuk dirinya sendiri.

Di mata Allah, ketika kita tidak mau berbagi, ketika kita tidak mau peduli, sama saja kita memakan harta anak yatim dan memakan jatah orang miskin. Coba pikirkan, bukankah selalu ada hak mereka di setiap tetes hasil keringat kita? Bukankah ada kewajiban kita mengeluarkan sebagian rezeki kita buat mereka?

Mari kita tumbuhkan kepedulian ketika kita masih bisa tertawa, masih bisa melihat, masih bisa melangkahkan kedua kaki, ketika perusahaan dan usaha kita sedang lancar, ketika posisi atau jabatan kita sedang di atas. Tumbuhkanlah rasa ingin berbagi dan kemampuan meraba penderitaan ketika kita masih senang. Jangan sampai Allah ingatkan kita dengan mempergilirkan kesusahan, dengan mempergilirkan penderitaan; lantaran kita tidak pernah mau menengok kanan kiri sebagai sebuah aktualisasi salam dalam shalat kita. Ingat saudara, kehidupan dunia bagaikan roda, kadang kita di atas dan terkadang di bawah.

Maka cobalah kita ajukan beberapa pertanyaan berikut kepada diri kita:
Sudah berapa lamakah kita tidak membelai kepala anak-anak yatim dan menggembirakan hatinya? Atau jangan-jangan belum sama sekali.
Sudah berapa lamakah kita tidak mengetuk pintu tetangga yang kita tahu ia sedang kesusahan? Atau jangan-jangan malah tidak pernah kita bukakan pintu ketika ia mengetuknya.

Ketika kita gajian, atau berhasil kita punya usaha, pernahkah berpikir, siapa yang akan kita santuni? Atau jangan-jangan lebih banyak berpikir, mau beli apa nih, bersenang-senang ke mana nih?….

Ayo kita bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah kita lakukan ketika Allah memberikan kenikmatan yang dengannya kita diminta untuk berbagi? Bila jawabannya adalah kita sudah berbagi, maka teruslah berbagi bahkan kita tingkatkan kualitas dan kuantitasnya. Jangan sampai kita bersedekah, memberi dan berbagi tapi menyesal disaat sekaratul maut, di saat Allah beberkan pahala kebajikan kita termasuk pahala sedekah

Hal tersebut pernah di alami oleh salah seorang sahabat nabi SAW, saat malaikat maut menjemput, saat sekaratulmaut tiba sang sahabat bergumam: “ andaikan lebih jauh” beberapa saat kemudian ia bergumam lagi,“ andaikan yang baru” tak lama kemudian keluar lagi kalimat dari bibirnya,“andaikan semuanya"

Peristiwa tersebut mengejutkan dan membuat para sahabat yang lain bingung tentang makna dan maksud si fulan bergumam demikian. Disaat mereka sedang berbingung ria, Rasulullah SAW datang. Lalu salah seorang sahabat mengutarakan kejadian yang membingungkan itu dan bertanya, “Ya Rasulallah…, berikan penjelasan kepada kami tentang makna gumaman sahabat kita yang satu ini?”

Beliau berkata: “kalimat yang pertama keluar tatkala Allah beberkan pahala sedekahnya di dunia, yaitu ketika suatu hari dalam perjalanannya ke masjid untuk melaksanakan shalat jum'at sang sahabat melihat ada seorang kakek tua renta yang tanpa seorang penunjuk jalan yang membantu, maka hatinya tergerak untuk menolong. Ia tuntun sang kakek hingga tempat yang di tuju, ternyata tempat tujuannya begitu dekat, nah… ketika sekarat Allah perlihatkan tunjukkan kepadanya pahala menuntun sang kakek, maka keluarlah kalimat “ andaikan lebih jauh”, artinya andaikan lebih jauh jaraknya maka pasti akan lebih banyak pahala saya peroleh.”

Kalimat kedua muncul karena pada suatu subuh yang sangat dingin hingga serasa menusuk tulang, dalam perjalanannya ke masjid ia melihat ada seseorang yang sedang menggigil , mukanya pucat, bibirnya membiru dan teryata ia sedang sakit, Ia tertidur di emperan rumah. Lalu sahabat kita ini memberikan kepadanya mantel yang jelek yang kebetulan subuh itu membawa dua mantel, yang baru di pakai di dalam dan yang jelek dipakai di luar. Maka saat ia sekarat, Allah tunjukkan kepadanya pahala mantel yang jelek itu, ia menyesal, lalu ia bergumam “ andaikan yang baru”,

Kalimat ketiga yang keluar dari bibir sahabat kita terucap ketika Allah tunjukkan padanya pahala sedekahnya di dunia yang tidak maksimal yaitu ketika ia pulang ke rumah, ia bertanya kepada isterinya, ” apakah ada yang bisa dimakan sore ini?”, Sang isteri menjawab, “ada mas…” lalu isterinya tercinta menyuguhinya sebuah roti yang berisi daging. Di saat ia mau menyantap roti tersebut, pintu rumahnya diketuk oleh seseorang yang ternyata pengemis yang merintih kelaparan yang meminta belas kasihannya, iapun memotong rotinya menjadi dua bagian yang satu ia makan dan bagian lainnya ia berikan kepada pengemis, nah.. ketika ajal menjemput, Allah beberkan pahala sedekah sepotong rotinya tersebut, ia menyesal karena tidak memberi yang terbaik kepada si pengemis, makanya ia bergumam,” andaikan semuanya”…

Ehmm…, kayaknya kita perlu mengambil pelajaran nih dari kisah tersebut, selama ini sedekah identik dengan recehan, lecek, uang sisa, sisa belanja, sisa bayar listrik, sisa jajan dan lain sebagainya. Coba kita iseng bertanya pada diri kita atau sahabat dekat kita, kalau di saku ada uang seratus ribuan, lima puluh ribuan, sepuluh ribuan dan seribuan, seribuannya ada dua yang satu lempeng dan kaku yang lainnya sudah lecek dan kusam, yang mana yang di keluarkan untuk sedekah?....., wajar ya kalau Allah mengembalikan ke kita recehan juga…

Padahal janji Allah sudah jelas:
“Siapa yang mau memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Dia akan melipatgandakan (pembayaran) kepadanya dengan lipat ganda yang banyak...." (QS. Al Baqarah [2]: 245)

Bila kita belum pernah menunjukkan kepedulian, perhatian dan kasih sayang kepada sesama, maka kini saatnyalah kita peduli, saatnyalah kita untuk berbagi, sebelum semua yang dititipkan kepada kita diambil kembali oleh pemiliknya yaitu Allah SWT…
Oleh : Ust. Yusuf Mansur
Senin, 15 Syawal 1427 H
Last Updated ( Tuesday, 07 July 2009 )
 
< Prev   Next >
 
Konsultasi Online


Rekening Zizwaf
Form Pendaftaran Relawan
Download Form Pendaftaran Relawan
Formulir Seleksi Nasional beasiswa Smart EI
Download Brosur SMART Ekselensia Indonesia
Download Formulir Pendaftaran SMART Ekselensia Indonesia
   
 
       

Dompet Dhuafa Jawa Barat
Jl. HOS Tjokro Aminoto (Pasirkaliki) No. 143 BAndung
Tlp. (022) 6032281, 6120218, Fax (022) 6120130, SMS 081-321-200-100, Email: info@dompetdhuafa.net