Rekening Zizwaf
 
e-Letter

Jika Anda ingin mendapatkan update terbaru mengenai dompet dhuafa, silahkan isi formulir berikut ini:

:
:


 
 
 
Ramadhan; Kembali Suci Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 28 August 2008
Fitrah adalah Islam, suci, taat, bersih, baik, damai, bahagia, sunatullah. Air itu bersih, turun dari langit, ke gunung, lalu ke lembah, lalu ke sungai-sungai, lalu ke empang, ke got lalu air itu menjadi kotor, berbau, bahkan jijik.

 

arifin_ilham

 

Shaum Ramadhan datang untuk memfitrahkan air kotor itu supaya menjadi air bersih dan suci kembali. Hamba Allah yang melaksanakan ibadah shaum karena iman dan semangat memperbaiki diri sungguh seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya. Demikianlah sabda nabi Muhammad SAW. Subhanallah…inilah kemenangan dan kegembiraan bagi hamba-hamba Allah yang dikembalikan Allah diri mereka pada posisi fitrah (minal aidin wal faizin).

Di antara keistimewaan hati yang fitrah-bersih dan suci adalah:

• Sangat mudah mengkases hidayah (petunjuk), rahmah (kasih sayang), maghfirah (ampunan), mahabbah (cinta), ma'rifah (hikmah-hikmah), 'inayah (pertolongan), dan barakah (kebaikan-kebaikan) dari Allah.

• Bersitan hati apalagi berdo'a menjadi sangat mustajab.

• Firasat pun sangat tajam sehingga nabi Muhammad SAW bersabda “berhati-hatilah terhadap firasatnya orang-orang beriman”.

• Bicarapun menjadi hikmah (qaulan tsaqiilan, qaulan layyinan, qaulan baliighan, qaulan sadiidan).

• Mudah meraih kenikmatan dalam beribadah (khusyu'). Ibadah hampa bahkan terasa berat melaksanakan karena hati kotor.

• Mudah dan sering menerima ilham-ilham, intuisi-intuisi, kebaikan bahkan strategi untuk mencapai kemuliaan (maqaman mahmudan). Seperti minyak zaitun yang belum dinyalakan saja sudah menyala, apalagi kalau dinyalakan. Seperti dalam Q.S. An Nur : 35.

• Pusat perhatian malaikat seperti bintang di tengah malam. Subhanallah.. malaikat diciptakan dari cahaya-mengagumi hamba Allah yang bercahaya hatinya.

• Membuat hati menjadi damai, pikiranpun menjadi jernih, mulut, mata, telinga, tangan, kaki, semua menterjemahkan keindahan hati yang fitrah (al-akhlakul karimah). Syetanpun tidak dapat memperdayanya. Melihatnya saja syetan tidak akan kuat karena cahaya yang terang dari hati yang fitri, laksana menatap matahari.“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram (Q.S.Ar Ra'd : 28)

• Buah dari taubatan nashuha, Taubat yang sungguh-sungguh, tidak sekedar apalagi berulang-ulang melakukan maksiat. The first the last. Hai orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah denga taubat yang semurni-murninya (Q.S. At Tahrim: 8).

• Kunci sukses, keberuntungan, kebahagiaan, dan kemenangan.“Sungguh beruntunglah hamba Allah yang menjaga kesucian hatinya dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya” (Q.S. Asy-Syams : 9-10)

• Selalu terpuaskan dengan kelezatan berdzkir kepada Allah.

• Merasakan keagungan, kemuliaan, keindahan, kedahsyatan Allah, yang dilihatnya bukan lagi siapa atau apa kecuali gerak iradah dan qudrah Allah. Dia tak lagi melihat ikan atau burung tapi ia melihat bagaimana Allah menciptakan ikan dan burung. Air matanya mudah menetes karena kecintaan dan kekaguman kepada Allah (Q.S. Al-Isra : 109).

• Meraih sifat terpuji dari segala sifat – Al Ikhlas. Apa yang ada di hatinya, itu yang dia pikirkan, itu yang dia ucapkan, itu yang dia amalkan. Tidak ge-er, tidak minder, tidak berlagu, tidak ngoyo, tidak neko-neko, tidak ada retorika, intrik-intrik, tidak ada kesan tawadhu tapi takabbur, di hatinya agama di mulutnya dunia. Lurus, tulus, halus hatinya, karena kepentingannya hanya satu: ridha Allah. Lihat Q.S. Al-Baqarah: 207.

• Sumber suburnya sifat-sifat mulia kepada Allah yaitu taqwa. Subhanallah…. kita ditaqwakan oleh Allah di bulan Ramadhan, dilaparkan, dihauskan, diperintahkan mengendalikan diri, kita pun wajib taat, suka tidak suka, toh kita merasakan kelezatan iman walau dalam kadar yang berbeda saat kita melaksanakan shaum. Persis seperti anak kecil yang harus dikejar-kejar untuk diberi makan, susah untuk mandi karena belum tahu hikmah mandi dan makan yaitu sehat dan bersih.

* * *

Ramadhan boleh berlalu tapi sifat taqwa tidak boleh berlalu. Kebiasaan shaum dilanjutkan dengan shaum sunnah, shaum syawal, shaum Senin-Kamis, atau shaum Daud. Shalat berjamaah semakin terjaga, melalui zakat fitrah atau zakat mal, kasih sayang, tolong menolongpun dipelihara. Al Qur'an bukan hanya pengajian tapi kajian dan meraih amal terbaik belajar lalu mengajarkannya. Semangat taqwa ini semakin bergelora.

Saat-saat puncak lapar, haus, menjelang berbuka/ifthar, itulah saat-saat bahagia padahal bedug belum berbunyi. Ternyata taat itu nikmat subhanallah…. ternyata taqwa itu kunci kebahagiaan. Taqwa inilah yang menjadikan surga sebelum surga. Mengapa selama ini kita belum nyaman berislam, sulit khusyu', terpaksa beribadah bahkan hampa walau selalu beribadah, sejujurnya kita belum bersungguh-sungguh bertaqwa, masih tawar-menawar dalam ketaqwaan, padahal dalam “aku” ada ego, nafsu, dunia, tipu daya syetan, tabiat dan dosa-dosa yang menjadi hijab kedekatan diri kepada Allah.

Berarti, kemalangan-kemalangan yang terjadi sebenarnya karena kita melakukan kemaksiatan kepada-Nya. Lihat Q.S. Yaasiin : 19.

Subhanallah…. halal saja saat shaum dikendalikan, apalagi yang haram. Sungguh, halalpun kalau tidak terkendali menjadi haram, israf, dan mubadzir, bahkan menjadi shahibnya syetan – Q.S. Al Isra' : 27 – yang falsafah hidupnya “jangankan yang halal, yang haram saja sulit”. Padahal justru halal terasa nikmat setelah dikendalikan.

Sebagaimana saat berbuka puasa terasa nikmat sebiji kurma, sesuap nasi, seteguk air, ternyata TAAT ITU NIKMAT. Jadi apa susahnya “TAAT SESAAT” bukankah ada saatnya beduk berbunyi, ada saatnya idul fitri dan ada saatnya kita berjumpa dengan Allah? Sungguh gembiranya hamba Allah saat idhul fitri dan gembiranya hamba Allah saat berjumpa dengan Allah.

Karena itu jangan terjebak oleh karena hanya keenakan sesaat tetapi akan menderita berkepanjangan. Maksiat enak tetapi tidak nikmat. Hidup ini memang sesaat tetapi penuh resiko. Saudaraku, olahlah yang sesaat ini untuk berarti hidup panjang hari tanpa akhir. Maka siapapun yang ingin bahagia hidup dunia akhirat, kuncinya hanya satu: bertaqwalah kepada Allah.

***Penulis adalah pimpinan Majelis Ad-Dzikra.

Oleh : Ust. Muhammad Arifin Ilham
Kamis, 25 Syawal 1427 H
Last Updated ( Tuesday, 26 May 2009 )
 
< Prev
 
   
 
       

Dompet Dhuafa Bandung
Jl. HOS Tjokro Aminoto (Pasirkaliki) No. 143 BAndung
Tlp. (022) 6032281, 6120218, Fax (022) 6120130, SMS 081-321-200-100, Email: info@dompetdhuafa.net