| Dari Salesman ke President Director |
|
|
| Written by Administrator | |||
| Wednesday, 10 September 2008 | |||
Pemuda itu asal Indonesia. Rachmat Badruddin namanya. Bukan dalam rangka pertukaran pelajar, atau kegiatan semisal yang kerap terdengar diberitakan. Rachmat yang sebelumnya magang sebagai on- the-job training di C.Tennant & Sons, tengah menjalani masa percobaan sebagai salesman. C.Tennant pada waktu itu merupakan importir teh, diantaranya dari Indonesia. Tiba di tempat Rachmat agak gusar. Di depan dia, Mr. Peter Hahn, Manajernya di C.Tennant, mempersilahkan Rachmat duduk, sembari buka-buka catatan. "Rachmat, untuk kamu ketahui, sewa kantor di Park Avenue (jalan protokol semacam Sudirman di Jakarta) itu sekian dollar per Square foot . Kamu menghabiskan ruangan sekian luas, gaji kamu sekian dollar .. listrik, sehabis dibagi rata dengan semua pegawai, sekian dollar.. telepon..dll." Rachmat mengangguk-angguk, tanpa berani berkomentar, karena ia belum tahu pasti arah pembicaraan. Alam pikir dia melesat sejenak ke tanah lahirnya di Bandung. Sebagai anak pemilik perkebunan teh yang cukup besar di Jawa Barat, ego Rachmat sempat muncul untuk hengkang karena harga dirinya terasa dikecilkan. Namun, ia teringat janjinya untuk memboyong istri dan anak dia yang masih bayi ke New York. Rachmat lalu memohon dengan sangat dan dia minta waktu tambahan 2 bulan, untuk membuktikan bahwa ia mampu. Peter tak langsung menjawab. Lama ia tampak terdiam menimbang. Esoknya, Rachmat mulai berkeliling dari perusahaan ke perusahaan, menawarkan teh dengan lebih agresif. Hampir semua perusahaan ia jelajahi. Kebanyakan diantara mereka menolak, karena masih memiliki stok yang cukup dan belum memerlukan tambahan. Jika malam tiba, Rachmat kerap tak bisa memejamkan mata. Bagaimana bisa, daftar nama perusahaan sudah hampir semua dikunjungi, tapi hasilnya belum memadai. "Jangan-jangan saya tidak bisa menepati janji, membawa anak dan istri untuk tinggal bersama," ungkapnya dalam hati. Setelah bekerja habis habisan, dan kadang kadang mengiba pada pembeli, menjelang limit waktu genap sebulan berakhir, angin segar menerpa Rachmat. Beberapa klien setuju membeli produknya, hingga pada akhir bulan omzet penjualannya berakhir melebihi target, malahan berlipat. Rachmat pun mengundang bosnya makan siang di cafeteria yang sama, bahkan di meja yang sama, saat sebulan lalu ia nyaris terusir dari kota tempat patung legendaris Liberty tegak berdiri itu. Ia perlihatkan catatan prestasinya selama sebulan, dan membandingkannya dengan jumlah uang yang perusahaan telah keluarkan untuk dia.
***
Betul, bahwa perusahan itu adalah perusahaan keluarga, warisan ayahandanya, (alm) H. Badruddin. Betul bahwa sejak kecil dirinya hidup berkecukupan. Namun, dibawah kepemimpinan Rachmat, Chakra telah berkembang dari satu perkebunan menjadi 5 perkebunan teh yang bisa dibanggakan. Semuanya itu tidak diperoleh dengan instan. Proses pencapaian hari ini, tentu tak terlepas dari apa yang ia jalani di waktu-waktu yang dilewatinya. Salah satunya seperti sepenggal kisah di atas. Saat usia menjelang 25, Rachmat telah berkompetisi sebagai salesman di New York, kota terbesar di dunia. Setelah tinggal dan bekerja di New York selama 3 tahun, dia pulang ke Indonesia, dan dipercaya menjadi wakil C.Tennant, sebagai agen pembelian kopi, teh, lada, dan komoditas lainnya di Indonesia. Di usia 27, Rachmat menjadi Export Manager di PT Kiagoos/Masayu, Importir & Assembler mobil, perusahaan pertama yang mendirikan gedung empat tingkat di Jl. Jendral Sudirman. Dengan merangkap sebagai buying agent C. Tennant, gajinya berlipat dan boleh dikatakan tinggi sekali untuk ukuran manager pada waktu itu. Hobinya menyetir mobil tersalurkan karena beberapa unit mobil pribadi tertambat di garasi rumah dia. Salah satunya Ford Mustang. Konon, waktu itu baru ada 2 orang yang punya, (alm) Achmad Bakrie, ayahanda Menko Perekonomian kabinet SBY, dan dirinya. Rachmat akui, periode ketika ia digembleng Peter Hahn sebagai salesman C-Tennant, adalah saat-saat yang paling menggurat kesan mendalam dalam benak dia. Betapa tidak, Peter Hahn yang keturunan Jerman itu, dengan segala ketegasannya, ternyata mampu mentransformasikan etos kerja kepada Rachmat yang merupakan bekal berharga bagi seorang entrepreneur untuk pantang menyerah saat diguncang masalah. Diantara petuah Peter yang membekas, adalah saat menjelang kepulangan Rachmat dari New York dulu. Waktu itu Peter berpesan, “in this world, there’s no such a thing as something for nothing. Only your parents expect nothing from you. (Di dunia ini, semua orang berharap sesuatu dari kamu, kecuali orang tua yang tidak mengharapkan sesuatu dari kamu). Peter menambahkan, “Selama kamu pertahankan prinsip ini, dimanapun kamu bekerja, kamu pasti akan dapat tempat.” Dan itu terbukti pada diri Rachmat. Di usia muda, seperti yang dipaparkan sebelumnya, karir dia melesat tajam. Namun, kesuksesan yang diraihnya hingga kini, tak lantas membuat Rachmat nyaman disebut 'sukses.' Bagi Ketua I Dewan Teh Indonesia ini, "masyarakatlah pada akhirnya yang akan menilai sukses dan tidaknya seseorang. Bukan seseorang yang mendeklarasikan bahwa dirinya telah sukses," tegas Ayah empat anak ini, saat ditemui tim peliput Alhikmah, di sela kesibukannya. Tak heran jika saat ini, dengan kesibukannya sebagai President Director KBP Chakra, dan beberapa jabatan di beberapa organisasi lainnya, ia bergabung sebagai Dewan Pembina Lembaga Amil Zakat, Dompet Dhuafa Bandung, jejaring Dompet Dhuafa Republika wilayah Jawa Barat. Satu lagi teladan dari seorang Rachmat Badruddin. Bahwa seorang pengusaha dengan ruh bisnis yang kental, bukan berarti harus menanggalkan kepedulian sosial. |
|||
| Last Updated ( Tuesday, 16 September 2008 ) | |||
| < Prev |
|---|









