Rekening Zizwaf
 
e-Letter

Jika Anda ingin mendapatkan update terbaru mengenai dompet dhuafa, silahkan isi formulir berikut ini:

:
:


 
 
 
Sekeping Mosaik Kehidupan Boediman Soemali Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 26 September 2008
 

Di ruang tunggu 99-ers, persis di depan studio on air-nya yang transparan, sejenak  kami menunggu. Suasananya sungguh enerjik. Tembang-tembang hits terkini, mengiring keceriaan yang tampak memancar di wajah-wajah muda yang berseliweran, sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Jum’atan sudah lewat setengah jam. Lift Basement Gedung BRI Tower, Jl. Asia Afrika No. 57-59 Bandung, membawa kami, tim peliput Alhikmah melesak jauh menapak Lantai 14. Ada janji, siang itu (19/9) yang tak boleh dilewatkan. Bertemu seorang Boediman Soemali, President Commisioner   99-ers Corporation.

Di ruang tunggu 99-ers, persis di depan studio on air-nya yang transparan, sejenak  kami menunggu. Suasananya sungguh enerjik. Tembang-tembang hits terkini, mengiring keceriaan yang tampak memancar di wajah-wajah muda yang berseliweran, sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Tak lama berselang, muncul sosok yang dinantikan. Senyumnya merekah, khas oriental. Sebelum sempat dibalas, ia sudah mempersilahkan kami untuk masuk ke ruang kerjanya, di satu sudut Lantai 14 gedung itu.

99-ers bagi Boediman, adalah sekeping mosaik sejarah perjalanan hidupnya di dunia entertainment kota kembang. Di situ pula, ia kini mengemban misi dakwah, dengan pola pendekatan yang ‘tak lazim’ dibanding wahana dakwah pada umumnya. Mengenalkan Islam, tanpa ada kesan mendikte para pendengar radio anak muda itu.

Terlahir sebagai putra sulung pasangan Soenanta Soemali-Rianawati yang  pengusaha property ternama itu, tak lantas membuat dia mengikuti jejak sang ayah terjun di dunia yang sama. Terlebih saat ia mengambil keputusan revolusioner dalam hidupnya untuk berpindah agama.

Tentu saja hidayah itu tak datang begitu saja. Jauh hari, Boediman sudah mengalami pergolakan batin tentang kebenaran agama katolik, yang dianutnya. Ia pun lalu berdo’a pada Yesus, Tuhan dia waktu itu, untuk menunjukkan, mana agama yang terbaik bagi dia.

Waktu itu awal 1995. Boediman baru saja melepas rindu, bertemu putra pertama dia, Tristan Donovan. Buah cintanya dengan istri pertama, seorang wanita berkebangsaan Amerika.

Seperti kebiasaan Boediman, momen langka bertemu putranya tak terlewat untuk diabadikan dalam sebuah alat perekam video 8. Usia Tristan saat itu baru menginjak 5 tahun.  Fase pertumbuhan anak manusia yang tengah lucu-lucunya.

Singkat cerita, suatu hari sesudah pulang ke Indonesia, Boediman lalu merindukan kembali anaknya.  Ia pun lalu memutar ulang momen rekaman yang berisi tingkah polah Tristan.

Kebetulan waktu itu, ia tengah merintis hubungan dengan seorang gadis Muslim, bernama Lisa Marlina. Bersama Lisa, Boediman lalu menyimak rekaman Tristan, anaknya.

Persis ketika lensa kamera mengarah ke Tristan, di rekaman tersebut terdengar suara Adzan berkumandang.

“Tak mungkin ada suara Adzan. Kalaupun ada Mesjid, jaraknya berpuluh kilometer dari tempat saya merekam, dan tidak boleh diperdengarkan secara luas karena dianggap sebagai polusi suara oleh masyarakat setempat,” kata saya saat itu. Seolah tak percaya, ia memutar ulang kaset rekaman dia. Kali ini ada fakta yang lebih janggal lagi, yang sedikit terlewatkan sebelumnya. Lagi-lagi, saat lensa mengarah ke Tristan, Counter di LCD video yang sudah mencapai angka ribuan detik, tiba-tiba berubah mundur sampai minus sekian, seperti baru akan memulai merekam memakai kaset baru. Lalu, ketika lafadz itu selesai berkumandang, saat itu pula angka di counter kembali ke posisi semula.

Setelah kejadian, Iman Katolik Boediman goncang. Ia bertanya ke para Ustadz, Pendeta, bahkan Pastor. Jawaban yang muncul  beragam. Semuanya tak memuaskan dahaga batin dia. Dan itu membuatnya kian bimbang.

Mau tak mau, akhirnya ia memilih untuk mencari sendiri jawabannya. Ia mulai membaca-baca hal ihwal Islam. Semakin banyak membaca, semakin ia sadar, bahwa Islam rupanya jawaban atas kegundahan hati dia selama ini.

Setelah mantap dengan pilihannya, ia pun berikrar di depan seorang Ustadz yang sengaja diundang, mengucap 2 kalimat Syahadat, Asyhadu anla Ilaa ha Illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah.

Alhamdulillah, setahun kemudian, 1996,  Lisa Marlina, muslimah yang dulu mendampinginya saat menyaksikan peristiwa video Tristan, resmi menjadi pendamping hidup dia. 

Meski demikian, lima tahun pertama ke-Islamannya, terasa begitu berat bagi seorang Boediman. Lingkungan pergaulan dia dulu yang dekat dengan beragam maksiat, masih mencuri celah untuk kembali menarik masuk ke poros lingkaran setan.

Kecintaannya pada dunia entertaint, sempat membuat Boediman berpikir untuk mendirikan usaha diskotik tanpa Alkohol. Berdirilah O’hara, café tanpa alcohol, pada tahun 1999.

Setahun kemudian, 9 September 2000, 99-ers lahir. Alasannya. Lagi-lagi karena kecintaanya pada dunia hiburan. “Dengan terjun ke radio, saya masih bisa kumpul-kumpul tanpa harus begadang, minum alcohol, dan sederet perbuatan maksiat lainnya,” kata Boediman.  Di tahun itu pula Boediman melaksanakan ibadah Umroh bersama sang istri tercinta, Lisa Marlina.

Godaan ia rasakan begitu berat. Café O’hara sepi pengunjung. Malah ada seorang kawan yang bilang, “Ngapain loe buka café kalo nggak jual minuman,” ungkapnya menirukan.

Ia kembali tergoda. Tahun 2001 Boediman menutup café O’hara, untuk kemudian membuka diskotik Euro, di Lantai 2 Hotel Perdana Wisata, Bandung. Kali ini, seperti diskotik pada umumnya, menyediakan minuman beralkohol.

Boediman berkisah, “Sebetulnya, hati kecil saya menolak. Tiap kali saya datang ke lokasi, saya selalu bilang ke istri saya, bahwa usaha ini harus segera ditutup. Sebab, dari sinilah, banyak orang akan terpengaruh untuk berbuat maksiat.”

Tapi tidak mudah. Godaan pun menderas datang. Setiap kali akan ditutup, sponsor selalu datang mengahmpiri. Itu berlangusng berulang-ulang. Sampai akhirnya tahun 2002, hubungan arus pendek (korslet) memicu nyala si jago merah, dan meluluhlantakkan sarang maksiat itu.

Istighfar berkali-kali ia ucapkan saat itu. Entah mengapa, Boediman yakin ini adalah teguran keras dari Allah atas keraguan dia untuk meninggalkan segala bentuk larangan-Nya.

Disitulah titik balik seorang Boediman. Sejak itu ia berikrar untuk berusaha semaksimal mungkin menjadi seorang hamba yang total berserah diri terhadap segala apa yang diperintahkan-Nya.

Namun, kecintaannya terhadap dunia entertaint tak berarti harus berhenti begitu saja. Ia beranggapan, bahwa dunia hiburan pun bisa menjadi wahana dakwah efektif, terutama bagi kawula muda. Tentu  dengan bahasa kaumnya.

Last Updated ( Wednesday, 09 September 2009 )
 
< Prev   Next >
 
   
 
       

Dompet Dhuafa Bandung
Jl. HOS Tjokro Aminoto (Pasirkaliki) No. 143 BAndung
Tlp. (022) 6032281, 6120218, Fax (022) 6120130, SMS 081-321-200-100, Email: info@dompetdhuafa.net